Media untuk Karya, Karsa, Rasa dan Apa Saja

Puisi

Padan Siulubalang Ari
***
Manjujung simanjujungmu
Suang parsimangotonku
Di tontang andora dohot ambuhu
Tondimi umak mandongani au
...
Antong molo atiha samon
Rohaki humaliang malungun
Jalak mangalului siguriton
Baen jamita siubat lungun
...
Ia dung dao pe mangambe simanjojak
Tu huta balian mambolus tombak
Anggo tondi dohot badan umak
Marpaboa na angkon ro do au mulak
...
Ia dung pe maringol simanangi
Boti dung rambon simalolong
Rohaku lan sai maligi
Harani podamu umak dohot holong
...
Sarupo do umak suang siulubalang ari
Tungkun marondangi ari
Songoni padan ni badan
Madingin marpudun tondim

#puisi

Tangis Dusta Ujung Desa

Malam selepas petang itu, telepon genggam milikku berdering. Ada panggilan selular masuk dari salah seorang Petugas Keamanan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan
Ilustrasi (Samman Siahaan)

yang memecah kesunyian selepas hari penuh penat Sabtu 5 September 2015 malam.
Seperti hari hari biasanya, usai penat, sepi pasti menyusupi pikirku. Entah karena rindu yang telah berkarat pada kampung halaman, teman se-kampung atau pada cerita-cerita kecil dahulu, tak tertinggal juga pada beberapa wajah yang masuk pada senarai calon Boru tulang. Hehe.
“Cepat kemari, Dek. Ada mayat korban perampokan di kamar jenazah,” suara dari balik sambungan telepon genggam itu seperti mendesak untuk kemudian bangkit dan beranjak.
Kuda besi peninggalan sang ayah pun kunyalakan untuk kemudian menyahuti kecemasan akan ketertinggalan informasi. Begitu seorang juru warta, pantang tertinggal.

Dari dalam kamar jenazah Rumah sakit, jasad kaku seorang pria telah direbahkan pada ‘Tataring' pemulasaraan. Wajahnya penyok, kepala pecah mengeluarkan isinya. Tidak ada luka lain selain pada bagian kepalanya. Pria berusia 39 Tahun itu bernama Armansyah. Setidaknya itu yang tercantum pada Kartu Identitas yang ditemukan pada saku celananya.
Back To Top